LOGIN

assignment_ind
httpsvisibility

Asal Usul Asuransi Syari'ah

Makna Berbagi dalam Asuransi Syariah

Asal-usul asuransi syari'ah berbeda dengan kemunculan asuransi konvensional. Praktik bernuansa asuransi tumbuh dari budaya suku Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW yang disebut 'aqilah'. Al-Aqilah mengandung pengertian saling memikul dan bertanggung jawab bagi keluarga. 

 

Dalam kasus terbunuhnya seorang anggota keluarga , ahli waris korban akan mendapatkan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh anggota keluarga terdekat dari si pembunuh yang disebut aqilah. Aqilah mengumpulkan dana secara bergotong royong untuk membantu keluarga yang terlibat dalam perkara pembunuhan yang tidak sengaja itu.

 

Dalam satu kasus tentang aqilah ini, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, yang artinya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah ra:  ''Berselisih dua orang wanita daru suku Huzail, kemudia salah satu wanita tersebut melempar batu kepada wanita yang lain sehingga mengakibatkan kematian wanita tersebut beserta janin yang dikandungnya. Ahli waris dari wanita yang meninggal tersebut mengadukan peristiwa  tersebut kepada rasulullah saw maka rasulullah memutuskan ganti rugi dari pembunuhan janin adalah dengan membebaskan seorang budak laki-laki atau wanita. Dan kompensasi atas kematian wanita tersebut dengan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh oleh aqilahnya (kerabat dari orang tua laki-laki)". (HR Bukhari)

 

Menurut Buku Dictionary of islam yang ditulis oleh Thomas Patrick jika ada salah satu anggota suku yang terbunuh oleh anggota suku lain, maka pewaris kurban akan dibayar sejumlah uang darah atau yang dikenal diyat sebagai kompensasi dari keluarga terdekat si pembunuh. Al-Aqilah adalah denda sedangkan makna al'aqil adalah orang yang membayar denda. Beberapa ketentuan sistem aqilah yang merupakan bagian dari asuransi sosial dituangkan oleh Nbi Muhammad saw.

 

Sejak zaman Rasulullah saw hingga saat ini kaum muslimin memiliki peran penting dalam mengenalkan sistem asuransi syari'ah kepada dunia. Pada tahun 200 H, banyak pengusaha muslim yang memulai merintis sistem takaful, sebuah sistem pengumpulan dana yang akan digunakan untuk menolong para pengusaha satu sama lain yang sedang menderita kerugian; seperti ketika kapal angkutan barangnya menabrak karang dan tenggelam, atau ketika seseorang dirampok yang mengakibatkan kehilangan sebagian atau seluruh hartanya. Istilah tersebut lebih dikenal dengan nama '' sharring of Risk'' (Amrin, 2011:5).

 

Asuransi syari'ah adalah sistem dimana para peserta menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang akan dialami oleh sebagian peserta. Prinsip dasar asuransi syari'ah adalah mengajak kepada setiap peserta untuk saling menjalin sesama peserta terhadap sesuatu yang meringankan terhadap bencana yang menimpa mereka ( sharing of risk). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya:

 

''Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosadan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya allah amat berat siksaNya.''

 

Menurut Fatwa DSN. No.21/DSN-MUI/X/2001. Asuransi syari'ah adalah (Ta'min, Takaful, Tadhammun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru' yang memberikan pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syari'ah.

 

Sumber : Kompasiana

BERITA TERBARU

Asal Usul Asuransi Syari'ah

02 September 2020, 14:14Penulis: Admin

Asal-usul asuransi syari'ah berbeda dengan kemunculan asuransi konvensional. Praktik bernuansa asuransi tumbuh dari budaya suku Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW yang disebut 'aqilah'. Al-Aqilah mengandung pengertian saling memikul dan bertanggung jawab bagi keluarga. 

 

Dalam kasus terbunuhnya seorang anggota keluarga , ahli waris korban akan mendapatkan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh anggota keluarga terdekat dari si pembunuh yang disebut aqilah. Aqilah mengumpulkan dana secara bergotong royong untuk membantu keluarga yang terlibat dalam perkara pembunuhan yang tidak sengaja itu.

 

Dalam satu kasus tentang aqilah ini, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, yang artinya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah ra:  ''Berselisih dua orang wanita daru suku Huzail, kemudia salah satu wanita tersebut melempar batu kepada wanita yang lain sehingga mengakibatkan kematian wanita tersebut beserta janin yang dikandungnya. Ahli waris dari wanita yang meninggal tersebut mengadukan peristiwa  tersebut kepada rasulullah saw maka rasulullah memutuskan ganti rugi dari pembunuhan janin adalah dengan membebaskan seorang budak laki-laki atau wanita. Dan kompensasi atas kematian wanita tersebut dengan uang darah (diyat) yang dibayarkan oleh oleh aqilahnya (kerabat dari orang tua laki-laki)". (HR Bukhari)

 

Menurut Buku Dictionary of islam yang ditulis oleh Thomas Patrick jika ada salah satu anggota suku yang terbunuh oleh anggota suku lain, maka pewaris kurban akan dibayar sejumlah uang darah atau yang dikenal diyat sebagai kompensasi dari keluarga terdekat si pembunuh. Al-Aqilah adalah denda sedangkan makna al'aqil adalah orang yang membayar denda. Beberapa ketentuan sistem aqilah yang merupakan bagian dari asuransi sosial dituangkan oleh Nbi Muhammad saw.

 

Sejak zaman Rasulullah saw hingga saat ini kaum muslimin memiliki peran penting dalam mengenalkan sistem asuransi syari'ah kepada dunia. Pada tahun 200 H, banyak pengusaha muslim yang memulai merintis sistem takaful, sebuah sistem pengumpulan dana yang akan digunakan untuk menolong para pengusaha satu sama lain yang sedang menderita kerugian; seperti ketika kapal angkutan barangnya menabrak karang dan tenggelam, atau ketika seseorang dirampok yang mengakibatkan kehilangan sebagian atau seluruh hartanya. Istilah tersebut lebih dikenal dengan nama '' sharring of Risk'' (Amrin, 2011:5).

 

Asuransi syari'ah adalah sistem dimana para peserta menghibahkan sebagian atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim, jika terjadi musibah yang akan dialami oleh sebagian peserta. Prinsip dasar asuransi syari'ah adalah mengajak kepada setiap peserta untuk saling menjalin sesama peserta terhadap sesuatu yang meringankan terhadap bencana yang menimpa mereka ( sharing of risk). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya:

 

''Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosadan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya allah amat berat siksaNya.''

 

Menurut Fatwa DSN. No.21/DSN-MUI/X/2001. Asuransi syari'ah adalah (Ta'min, Takaful, Tadhammun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru' yang memberikan pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syari'ah.

 

Sumber : Kompasiana

.

Makna Berbagi dalam Asuransi Syariah

Pentingnya Asuransi Syari'ah

09 September 2020, 16:50Penulis: Admin

Dewasa ini orang belum sepenuhnya paham akan pentingnya sebuah asuransi. Asuransi sendiri merupakan sebuah proteksi/jaminan terhadap resiko bahaya yang akan datang untuk dipikul oleh pihak lain sebagai bagian usaha pihak lain tersebut.  Sebagai seorang karyawan, pengusaha ataupun yang lainya perlu adanya sebuah jaminan, baik jaminan akan kesehatan, kecelakaan, hari tua maupun kematian.

 

Orang awam pasti akan berpikir dua kali jika ingin mengikuti sebuah asuransi, ini dikarenakan manfaat yang diterima tidak langsung serta merta hari itu juga. Orang akan cenderung lebih memilih menabung daripada mengikuti sebuah asuransi. Pandangan seperti ini wajar karena kecendrungan manusia adalah memiiki sesuatu dengan secara praktis dan jalan yang paling mudah adalah dengan menabung. Berbeda dengan menabung, asuransi adalah suatu investasi yang terencana dan akan kita dapatkan hasil secara maximal setelah periode asuransi selesai. Berikut ini beberapa perbedaan tabungan dan asuransi :

 

Jika kita benar-benar paham dan mencermati nilai plus yang diberikan asuransi maka tidak akan ada kata tidak pada asuransi. Contoh yang paling mudah adalah si A kelebihan uang gaji dialokasikan semua pada tabungan dan si B yang kelebihan uang gaji di alokasikan di asuransi dan tabungan(pada umumnya orang yang mengikuti asuransi juga bisa menabung karena besarnya premi disesuaikan sesuai perjanjian), ketika menginjak 1 tahun pertama mereka mnegalami musibah dan harus dirawat di rumah sakit dan biaya diperkirakan membutuhkan sekitar Rp 50 juta. Untuk si A yang kelebihan uang gaji di alokasikan semua di tabungan otomatis akan kerepotan karena bukan hanya uang tabungan yang akan habis tetapi juga uang tambahan karena uang tabungan tidak mencukupi untuk melunasi biaya perawatan rumah sakit. Berbeda dengan si A, si B yang kelebihan uang gaji di alokasikan di asuransi dan tabungan pasti tidak akan kerepotan karena disamping uang tabungan aman, biaya perawatan sudah tercover oleh pihak asuransi.

 

Asuransi sendiri dibagi menjadi dua yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah. Asuransi syariah lahir dari ketentuan islam dan secara garis besar merupakan asuransi yang berdasarkan hukum islam dimana dalam hukumya sudah ditentukan kondisi wajib, sunah, halal, makruh dan haram. Secara definisi asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk asset dan/atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2 yang artinya berbunyi : "Dan saling tolong menolonglah dalam hal kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling  tolong menolong dalam dosa dan permusuhan". Berikut ini perbedaan asuransi syariah dan asuransi non syariah/konvensional :

 

Penting bagi kita (khususnya umat muslim) untuk memilih asuransi yang benar-benar bersih dari unsur riba dan sesuai syariat islam. Bahkan banyak dari ulama islam yang mengharamkan asuransi konvensional karena di latar belakangi oleh beberapa alasan :

 

  1. Terdapat unsur jahalah (ketidak tahuan) dan ghoror (ketidak pastian) yang mana tidak diketahui siapa yang mendapatkan untung dan rugi pada saat berakhirnya periode asuransi.
  2. Terdapat unsur riba (contoh lebih detail pada asuransi jiwa) karena membayar premi dalam jumlah kecil dengan harapan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak dimasa yang akan datang.
  3. Dapat dimasukkan dalam jenis perjudian (maysir) karena salah satu pihak membayar sedikit harta untuk mendapatkan harta yang lebih banyak dengan cara untung-untungan tanpa melakukan pekerjaan.

Berbeda dengan asuransi konvensional, asuransi syariah memiliki perjanjian yang jelas disertai aqad yang syariah, dimana premi yang terkumpul (tabarru') akan dikelolah secara profesional untuk di investasikan berdasarkan prnsip syariah. Semua dana yang dikelolah nantinya di gunakan untuk menghadapi musibah/bencana yang akan  terjadi di antara peserta asuransi (prinsip taawun/tolong-menolong). Walaupun asuransi ini lahir dari prinsip islam tetapi asuransi ini tidak membatasi hanya umat islam saja karena islam sendiri adalah Rahmatan Lil Alamin atau universal sehingga sangat cocok untuk semua umat di dunia. Hal ini yang menyebabkan asuransi yang berbasis syariah berkembang sangat pesat pada dekade ini.

 

Sumber : http://Kompasiana

.

KepadaPentingnya Asuransi Syari'ah